Kesuksesan Tidak Diukur dengan Juara Kelas




RIYANPEDIA.com- Kesuksesan tidak diukur dengan menjadi juara kelas. Menjadi juara kelas atau bintang kelas kerap kita dengan dalam acara kenaikan kelas. Hingga kini banyak orang tua yang berharap penuh agar anaknya menjadi juara kelas. Kadang ada orang tua yang sampai kecewa ketika sang anak tidak mendapat juara kelas. Bahkan ada juga anak yang nangis tersedu-sedu saat tidak tidak mampu melaju ke kelas berikutnya alias tinggal kelas. Mengapa menjadi juara kelas masih sangat dijadikan sebagai indikator kehebatan anak dan lebih-lebih untuk menilai kesuksesannya?

Apakah anak yang tidak bisa menjadi juara kelas di sekolahnya ketika ia dewasa akan menemui kegagalan dan tidak mampu menjadi orang yang sukses? Apakah untuk anak usia sekolah dasar yang tahap perkembangam mereka masih perlu dikukuhkan pada sikap mental dan karekternya harus dinilai hanya dari kemampuan akademik? Tidakkah para orang tua bangga melihat anaknya sudah bisa mandiri di rumah seperti tidak cengeng, hidup hemat, sopan dan santun dalam bergaul, rajin menjalankan ajaran agama, hormat dan bakti pada orang tua, tidak manja dan suka berfoya-foya, selalu bengutamakan kerja keras untuk meraih sesuatu, dan memahami bahwa hidup ini adalah sebuah proses dan harus dijalani dengan jujur.

Beragam pertanyaan tersebut muncul di benak saya, acapkali saya melihat di sekolah pada waktu kenaikan kelas selalu ada siswa yang tidak naik kelas. Bahkan banyak dari meneka yang sampai menangis karena tidak kuasa menerima kenyataan. Mungkin karena diejek teman atau takut akan dimarahi orang tua ketika sampai di rumah. Muncul sebuah tekanan mental dalam benak anak. Bila masih ada anak yang tidak naik kelas apakah itu bisa dikatakan kesuksesan guru masih jauh dari harapan, apakah kita layak mengatakan kalau guru gagal dalam mendidik? Saya rasa kita jangan buru-buru mengatakan guru gagal dalam mendidik.

Dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, guru tidak hanya menghadapi satu orang siswa. Paling sedikit guru akan mengajar 10 orang siswa bahkan ada yang hinnga 30 orang siswa untuk jenjang sekolah dasar. Kesemua siswa tersebut memiliki keunikan dan kebutuhan yang beragam. Disinilah ke profesionalan guru akan diuji dimana ia harus memberikan pelayanan pendidikan yang adil kepada seluruh siswanya. Adil dalam artian memberikan hak yang sama kepada anak untuk berkembang secara maksimal sesuai dengan perkembangan mereka.

Saya yakin semua guru pasti menginginkan seluruh siswanya berhasil. Terkait dengan adanya peristiwa siswa tidak naik kelas itu merupakan sebuah proses yang harus dilakukan oleh guru untuk memberikan yang terbaik kepada siswa tersebut. Tidak naik kelas jangan diartikan sebagai kegagalan namun lebih pada perhatian kepada siswa itu. Bila guru memaksakan agar anak tersebut tetap naik kelas maka beban yang berat akan lebih ditanggung lagi oleh siswa. Bagaimana tidak, pada jenjang kelas sekarang saja mereka belum mampu lalu dipaksakan untuk ke jenjang yang lebih tinggi, yang sulit nantinya adalah anak itu sendiri. Jadi yang terpenting sebelum memfonis anak tersebut naik kelas atau tidak maka guru harus sudah memberikan segala kesempatan pada siswa tersebut untuk mengejar ketertinggalannya.

Anak yang tidak mendapat juara di kelasnya ata tinggal kelas sudah sepatutnya disikapi dengan bijak oleh para orang tua. Bagaimanapun hasilnya kita harus menerima dan memberikan suport kepada anak kita bahwa yang terpenting dari belajar di sekolah adanya sebuah perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Apalagi anak pada usia sekolah dasar. Sudah selayaknya para orang tua lebih memfokuskan anak terhadap pengembanban diri, penguatan karakter dan kejujuran. Dan bukan meletakkan sepenuhnya pada kumpulan angka-angka.

#Sikap orang tua dalam menyikapi prestasi anak
Saya sakin semua orang tua pastilah menginginkan setiap anaknya sukses di dalam hidup. Namun, jangan mengartikan sempit makna sukses itu sendiri. Saya pernah membaca sebuah kutipan yang diunggah di media sosial, dan sampai sekarang masih saya ingat dan menjadikan sebuah inspirasi bagi saya tentang arti sukses itu sendiri. Begini kutipan singkat cerita yang saya baca :
Ada orang tua yang memiliki empat orang anak. Keempat anaknya laki-laki. Semasih kecil tidak ada perbedaan yang nampak pada anak tersebut. Semua tumbuh dan berkembang seperti anak pada umumnya. Mereka suka bermain dan kadang kalau ada waktu luang mereka pun membantu orang tuanya. Ketika beranjang dewasa keempat anak orang tua tersebut memiliki kehidupan yang berbeda. 
Seseorang pun bertanya kepada orang tua tersebut. "Anak Anda bekerja dimana sekarang?  Apakah mereka sukses menyelesaikan studinya? " Lalu orang tua itu pun menjawab dengan rendah hati " Anak saya yang pertama hanya sebagai petani, dia tidak melanjutkan studinya. Anak saya yang kedua menjadi seorang dokter. Kini dia bekerja di sebuah rumah sakit dan sudah bisa buka praktek sendiri. Kemudian yang yang ketiga, menjadi seorang tentara. Kini dia sudah bisa menjadi seorang jendral. Lalu yang paling kecil berhasil meraih gelar  doktornya dan kini bertugas di sebuah perguruan tinggi menjadi dosen tetap disana"
Pria itu pun balas bertanya "Wah, ternyata anak anda yang pertama tidak sesukses ketiga saudaranya. Ia hanya menjadi seorang petani !" Orang tua itu pun menjawab dengan senyum kecil dibibirnya, " Anda salah. Bagi saya dari keempat anak saya. Ia lah yang paling sukses. Dia bekerja sebagai petani dan tidak melanjutkan studinya, dan bisa menyekolahkan ketiga adiknya hingga berhasil menjadi seperti sekarang ini. Bagi saya anak pertama sayalah yang paling sukses dari ketiga saudaranya"

Nah, dari kutipan cerita tersebut, jelaslah bahwa indikator sukses itu sangat relatif. Ada yang mengatakan ketika sudah menjadi seorang sarjana atau berhasil meraih gelar doktor, maka dikatakan sukses. Namun, berbeda dengan orang tua dalam cerita tadi. Makna kesuksesan yang diceritakan oleh orang tua tersebut adalah kesuksesan dalam arti luas. Sukses dipandang manakala kita berhasil mencintai pekerjaan yang kita geluti dan dari apa yang kita lakukan itu bisa bermanfaat bagi orang lain.

Marilah kita mengajarkan kepada anak kita makna bagaimana mensyukuri apa yang kita terima. Melakukan apa yang bisa kita lakukan sekuat tenaga dan dengan maksimal. Jangan mengeluh dan membandingkan kemampuan kita dengan orang lain. Setiap orang bisa sukses di bidangnya masing-masing.

Menggali kemampuan yang kita miliki dan bukan menyamakan diri dengan orang lain. Hargailah kemampuan yang mereka miliki. Fasilitasi anak kita di dalam mengembangkan kemampuannya. Jangan sampai kita para orang tua hanya bisa menuntut anak untuk ini dan itu tanpa memberikan teladan dan menghargai setiap usaha yang telah mereka lakukan. Hasil adalah urusan yang kedua. Proses dan kerja keras adalah yang utama.

Mari kembalikan fungsi pendidikan sekolah dasar yang sebenarnya. Marilah para orang tua lebih memberikan perhatian kepada anak kita dalam pendidikan.
Demikian ulasan singkat tentang kesuksesan tidak diukur dengan juara kelas. Semoga tulisan sederhana ini ada yang membacanya. Wasalam.

Terimakasih buat kawan-kawan setia RIYANPEDIA.com

0 Response to "Kesuksesan Tidak Diukur dengan Juara Kelas"

Post a Comment

Silakan tulis komentar Anda dibawah ini. Komentar Anda akan muncul Setelah Disetujui oleh Admin.
Terima kasih atas kunjungannya. Wassalam !

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel