Memutuskan Budaya Copas ( Nyontek ) Di Sekolah Langsung ke konten utama

Memutuskan Budaya Copas ( Nyontek ) Di Sekolah

Memutuskan budaya copas ( nyontek ) di sekolah - Copas yang merupakan singkatan dari copy paste merupakan sebuah tindakan yang paling tidak beretika. Sikap tersebut tidak ubahnya dengan pencurian atau korupsi. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini, memungkinkan copas itu dilakukan dengan mudah dan sangat cepat. Mengapa tidak?

Dapat tugas tinggal cari di internet, buat PR tinggal googling saja, buat artikel lomba tinggal googling saja"

Kadang aktivitas googling tersebut membuat kita malas berpikir dan tinggal memakan semua informasi tersebut tanpa diolah mentah-mentah. Bahkan ada yang menggunakan hasil copas artikel sebagai bahan untuk mengikuti sebuah perlombaan. Hasilnya mungkin saja juri lomba bisa dikadalain  (baca dibohongi)  sehingga bisa memperoleh juara dari hasil tulisan yang dicopas dari internet.

Budaya copas lambat laun mungkin akan menjadi sebuah kebiasaan. Mengambil hasil karya orang lain yang merupakan buah dari pemikiran hasil karya intelektual yang harus kita hargai. Dalam ruang perkuliahan kita sudah diajari bagaimana etika di dalam mengambil tulisan orang lain. Ya, benar sekali. Mencantumkan sumber kutipan yang kita ambil tersebut merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan agar tulisan kita terlihat bermartabat.

Memutuskan budaya copas harus dilakukan sejak dini. Salah satunya dari kegiatan pembelajaran di sekolah, khususnya di sekolah dasar. Budaya copas identik dengan budaya contek. Maaf kalau saya mengatakan sebagai budaya. Karena hampir disemua ranah jenjang pendidikan kita bisa temukan ada saja siswa yang menyontek. Lalu bagaimana memutuskan mata rantai kebiasaan menyontek tersebut?

Memang tidak semua siswa memiliki kebiasaan menyontek baik saat ulangan maupun menjiplak pekerjaan teman. Masih ada siswa yang memiliki integritas yang menjungjung tinggi kejujuran di dalam menghargai sebuah karya. Mereka masih berpikir bahwa lebih mulia bila ulangan memperoleh nilai yang kecil, dengan hasil kerja sendiri daripada hasil bagus  namun mencontek.

Ada bebarapa cara khusus yang bisa guru lakukan dalam memutuskan mata rantai copas dalam kehidupan di sekolah.Berikut ini akan kami sajikan selengkapnya

Satu, tanamkan dalam pemikiran siswa bahwa copas (baca : menyontek ) saat ulangan atau tugas yang diberikan guru bukanlah perbuatan yang terpuji. Dan yang paling memalukan lagi menyontek adalah sikap seorang pengecut dan bukan seorang kesatria.  Anak masih sangat menyukai segala sesuatu yang berbau heroik. Jadi dengan menanamkan pemahaman kepada mereka bahwa menyontek adalah sikap pengecut maka mereka akan enggan untuk melakukan aksi contek.

Kedua, melakukan pengawasan yang ketat ketika proses ulangan berlangsung. Guru jangan teledor dalam mengawasi siswa. Jangan sampai siswa menyontek anda sebagai guru malah asik dengan smartphone anda. Pengawasan ekstra ketat ini tidak akan berlaku apabila seluruh siswa sudah sadar dari dalam dirinya untuk tidak menyontek. Tindakan ini perlu juga dilakukan guru sebagai upaya mencegah tindakan menyontek terjadi. Kita masih ingat sebuah dagelan yang mengatakan bahwa
"menyontek itu tidak hanya datang karena niat pelakunya, tetapi karena adanya kesempatan... Kesempatan...kesempatan .."
Anda tentu masih ingat bukan? Nah berdasarkan celoteh yang terkesan asal asalan namun adanya benarnya itu kita harus senantiasa waspada.

Ketiga, Memberikan pengahargaan kepada siswa yang terbukti jujur mengerjakan tugas atau ulangannya dengan kemampuan sendiri. Penghargaan yang anda berikan bisa dengan sebuah benda yang memiliki nilai mendidik atau bisa juga Anda memberikan ucapan yang menumbuhkan semangat mereka. Apakah Anda sudah melakukannya? Saya yakin anda sudah melakukan hal tersebut.

Keempat, memutuskan mata rantai mencontek atau menyontek di sekolah bisa dilakukan dengan memajang poster yang menghimbau anti menyontek. Jangan hanya poster yang berisikan dilarang merokok atau cinta lingkungan saja yang Anda pajang di kelas. Kalau belum pajang juga poster yang mengkampanyekan gerakan anti mencontek. Bukankah ini adalah salah satu upaya pemberantasan korupsi sejak dini ? Yup.. Kalau Anda setuju maka lakukanlah.

Kelima, memutuskan budaya copas atau menyontek di sekolah bisa dilakukan dengan melibatkan siswa secara langsung untuk saling mengawasi satu sama lain apabila ada kedapatan siswa yang menyontek maka bisa disampaikan kepada guru. Tentu agar tidak terjadi pelaporan yang saling merisaukan atau salah lapor maka hendaknya menyertakan saksi dan bukti. Mungkin menurut Anda cara ini terlalu ekstrim? Kalau begitu sudah lupakan saja. Namun bila Anda bisa memodifikasi kan saya sangat mengharapkan sekali masukan Anda dan berkenan menulis dalam website ini.

Mungkin hanya itu saja dahulu yang bisa saya bagikan tentang bagaimana memutuskan budaya copas atau mencontek di sekolah. Siswa yang kelak akan menjadi pemimpin bagi dirinya, keluarga dan negara ini harus senantiasa bisa menghargai kejujuran dan arti menghargai karya orang lain. 

Semoga tulisan sederhana ini memberikan inspirasi bagi anda. Bila bermanfaat jangan lupa untuk dibagikan dan terimakasih atas kunjungan Anda di Riyan Pedia.
Salam pendidikan !!!!?

BACA JUGA ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Komentar

  1. mwnurut saya efek yg paling berdampak ke siswa itu pemberian pujian kepada siswa, karena pada waktu saya sekolah dulu pujian selalu diberikan kepada siswa yg nilainya tinggi ketimbang nilai rendah yg mungkin si siswa tersebut mengerjakan dgn jujur.

    Menurut saya seharusnya siswa diajarkan untuk lebih percaya diri untuk menghindari diri dari sikap mencontek seperti dari buku quantum learning dimana pelatihan kepercayaan diri itu sangat penting bagi siswa

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan tulis komentar Anda dibawah ini. Komentar Anda akan muncul Setelah Disetujui oleh Admin.
Terima kasih atas kunjungannya. Wassalam !