Cerpen : " Pak, Saya Terlambat ! "

Mungkin hari ini anak itu tidak sekolah lagi. Sudah hampir setiap Minggu, Artini selalu tidak sekolah. Sekali dua kali pasti dapat saja alasan untuk tidak bersekolah.

Yah, yang namanya anak sekolah dasar pastinya selalu ingin bermain, mungkin dia lebih senang berada di rumahnya dari pada di sekolah.

Kondisi itulah yang membuat saya memanggil Artini untuk kesekian kalinya ke ruang guru.

"Artini, kenapa kamu kemarin tidak sekolah? Bukannya Bapak sudah bilang kalau kamu terlalu sering tidak sekolah".
"Surat yang Bapak titipkan ke orang  tuamu, apakah sudah kamu sampaikan?"

Dengan wajah polosnya dia hanya diam menggerutu. Pakaian putih yang dipakai hari Senin kala itu tidak tampak putih.

Begitu pun dengan rok merah hati, yang seharusnya berwarna merah menyala tampak redup. Bagaikan warna merah yang kehilangan warna.

Sama halnya dengan semangat Kartini, yang ketika baru pertama kali duduk di bangku kelas 5 , hingga tiga bulan sudah lamanya pembelajaran di kelas 5 berjalan, tetap saja anak tersebut seperti itu.

Berbagai upaya sudah saya lakukan untuk meningkatkan hasil belajarnya.
Pun demikian pula dengan semangatnya untuk bersekolah dan menjaga kebersihan dirinya.

Memang dari dua puluh sembilan siswa yang saya asuh, hanya dia siswa yang paling terlihat tidak terurus. 

Artini hanya diam. Dan pertanyaan yang sama saya lontarkan kembali.
Dengan nada suara yang tampak terbata-bata diapun mengatakan kalau dia bangun ke siangan.

Karena kasihan, saya pun memberikan penjelasan kepada artini, kalau sikapnya itu tidak boleh diulangi kembali.

Hari demi hari sikap dan penampilannya selalu menjadi perhatian di sekolah.
Sedikit demi sedikit anak itu mulai menunjukkan perubahan. Namun, setiap kali sampai di sekolah anak itu pun selalu menangis.

Aku pun mulai tersentak, dan bertanya apa gerangan yang dia alami. Seluruh temann sekelas Artini pun aku korek keterangannya. Namun, tak satu pun siswa yang terbukti ada yang mengganggu artini.
Sepulang sekolah, aku pun mulai menuju rumah kediaman Artini. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh. 

Namun, syukur jalan menuju ke sekolah tidak begitu sulit. Sangat mudah di lalui dan tidak terlalu sepi.

Hingga terlihat Artini yang begitu gigih membantu orang tuanya untuk bekerja jualan sate laut di pinggir jalan.

Tak jarang saya lihat artini ketika masih memakaj seragam sekolah sudah bekerja membantu orang tua untuk menyiapkan jualan.

Aku pun sempat berpikir, mungkin karena menyiapkan dagangan sate yang berbahan dasar ikan laut itu, pakaian Artini, terkadang berbau amis.
Tidak jarang ia mendapat ledekan dari teman-temannya.

Pada suatu pagi, Artini pun kembali terlambat ke sekolah. Pada waktu itu saya pun sudah berada di kelas untuk memberikan pembelajaran kepada siswa.

"Maaf pak, saya terlambat"

Dengan wajah sedih, Artini menghampiri saya. Teman-temannya pun tidak sedikit yang menertawakannya.

Bahkan ada dari beberapa siswa yang menutup hidup, dan mengatakan kalau Artini bau amis.

Seketika itu pula, saya memutarkan tayangan rekaman video perjalanan Artini dari berangkat ke sekolah hingga pulang sekolah.

Anak-anak kelas 5 pun terdiam. Ketika waktu itu melihat bagaimana perjuangan Kartini bekerja membantu orang tuanya.

Dengan bekerja di pagi buta, Kartini sampai terlambat tiba di sekolah. Namun, keterlambatannya itu tidak menjadikan dirinya malas untuk ke sekolah.

" nak, lebih baik terlambat daripada tidak sekolah sama sekali. Namun, keterlambatan tersebut hendaknya tidak diulangi lagi untuk kedua kalinya"

Setelah siswa menonton video rekaman tersebut siswa semua terdiam dan memberikan tepuk tangan kepada artini.

Dalam hati kecil saya, untung sempat membawa HP dan mengabadikan kegiatan anak tersebut.

0 Response to "Cerpen : " Pak, Saya Terlambat ! ""

Posting Komentar

Silakan tulis komentar Anda dibawah ini. Komentar Anda akan muncul Setelah Disetujui oleh Admin.
Terima kasih atas kunjungannya. Wassalam !

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel