Pengalaman Menulis Sambil Menunggu Hujan

Sesuatu yang selalu dinanti ketika bekerja di atau pun yang lagi sekolah, hanya satu yang paling beken dari dulu hingga kini. Apalagi kalau jam pulang. Entah kenapa dari masa duduk dibangku sekolah hingga sudah usia dedengkotan kayak gini, masih juga ada perasaan yang sumringah menjelang waktu pulang sekolah sudah datang. 

Saya yakin, anda yang sudah  memasuki dunia kerja pasti merasakan hal yang sama seperti apa yang saya alami saat ini. Perasaan gembira karena akan bertemu dengan istri dan keluarga di rumah. Apalagi para Papa-papa muda yang lagi asik-asiknya memasuki dunia berumahtangga.

Tidak hanya itu, adanya buah hati yang sudah menunggu   kedatangaan kita, membuat perasaan ingin cepat pulang selalu menggebu-gebu. Namun, terkadang semua bisa tidak berjalan lancar. Anda terlambat tiba di rumah. Salah satu alasannya bisa disebabkan karena hujan yang turun dengan deras.

Kalau saya lebih memilih tidak menerobos hujan yang terlalu deras. Maka lebih baik mengerjakan sesuatu yang bermanfaat di tempat menunggu hujan. Bisa mengerjakan tugas yang belum kelar, atau menulis sebuah cerita dan mengunggahnya di media sosial. 

Jika anda berpikir itu tidak bermanfaat, maka saya yakin anda belum pernah mencobanya. Salah satu yang saya rasakan ketika menulis sambil menunggu hujan reda adalah waktu menunggu tidak membosankan dan perasaan menunggu lama pun tidak terasa. 

Suasana hujan mampu mengalirkan berbagai macam ide. Mulai dari tulisan puisi, cerita pendek atau hanya sebatas keluh kesah anda menghadapi cuaca yang kian berubah-ubah. Mudah-mudahan saja perasaan pasangan kita masih tetap teguh bersama kita sehingga selalu abadi. 

Jika sudah demikian melekatnya hobi menulis anda namun tidak bisa dilakukan karena memang harus mengerjakan tugas utama, maka di situasi seperti sekarang inilah bisa anda pergunakan untuk membuat sebuah tulisan. 

Ambil gadget anda atau buka laptop, kemudian tuangkan pemikiran atau imajinasi anda dalam bentuk untaian paragraf demi paragraf. Jangan berpikir tulisan anda kurang bermanfaat. Karena kebermanfaatan sangatlah relatif. Mungkin ada orang yang menilai tulisan anda hanyalah sebuah sampah, namun anda merasa tulisan anda itu adalah sebuah pencapaian anda melakoni honi menulis anda. 

Jika saya umpamakan sebuah sampah, misalnya saja botol kemasan air mineral, pastilah akan anda buang setelah mengkonsumsi isinya. Ketika anda membuangnya anda sudah berpikir kalau botol plastik tersebut sudah tidak bermanfaat lagi. Namun, bagaimana dengan para sobat pemulung. 

Sampah botol plastik tersebut bisa jadi merupakan sebuah berkah yang ketika memperoleh dalam jumlah yang banyak, kemudian mereka jual, maka sampah tadi menjadi berkah.

Demikian pula dengan tulisan anda. Sesederhana apapun, suatu nanti akan ada orang yang akan merasakan  kebermanfaatan tulisan anda tersebut. Sama seperti tulisan ini, saya harapkan semoga bermanfaat bagi anda untuk memotivasi semangat menulis.

Mumpung hujan sudah mulai reda, maka saya cabut dulu. Wasalam !

0 Response to "Pengalaman Menulis Sambil Menunggu Hujan "

Posting Komentar

Silakan tulis komentar Anda dibawah ini. Komentar Anda akan muncul Setelah Disetujui oleh Admin.
Terima kasih atas kunjungannya. Wassalam !

Iklan Atas

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel