Membaca Buku Versus Membaca Medsos Langsung ke konten utama

Membaca Buku Versus Membaca Medsos

Membaca buku versus membaca medsos - Gerakan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran sudah banyak dilaksanakan di semua jenjang sekolah, mulai jenjang sekolah dasar hingga menengah. Gerakan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran ini, tertuang di dalam Permendikbud No 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Melalui pembiasaan ini diharapkan minat baca dan budaya membaca masyarakat Indonesia, khususnya kalangan siswa semakin meningkat.

Pelaksanaan membaca buku 15 menit sebelum memulai pelajaran ini pun kini sudah mulai menumbuhkan beberapa hasil, salah satunya bagi saya sendiri. Siswa di kelas yang saya ampu semakin menunjukkan kemajuan hasil belajar yang semakin meningkat dari hari ke hari. Meskipun demikian masih ada siswa yang tidak melaksanakan wajib membaca tersebut dengan kesadaran yang tulus. 

Siswa tampak membaca buku ketika ada guru yang mengawasinya, namun ketika guru tersebut menjauh, siswa malah asik mengobrol dengan teman mereka. 

Tentu bukan sikap seperti ini yang diharapkan. Seperti yang diliput dari JPNN bahwa masyarakat Indonesia berada pada posisi yang paling rendah dalam uji tingkat membaca internasional.

Disisi lain dengan perkembangan teknologi komunikasi sekarang ini masyarakat lebih menyukai komunikasi secara online. Pembiacaraan yang biasanya dilakukan secara langsung di dunia nyata, kini berubah ke dunia maya, melalui aplikasi chatting di media sosial (medsos)

Meskipun demikian secara tidak langsung pengguna dalam hal ini siswa sudah  membaca pesan dari jaringan medsos tersebut.

#MEMANFAATKAN MEDSOS UNTUK MENINGKATKAN MINAT BACA

Memanfaatkan medsos untuk meningkatkan minat baca? Apakah bisa?

Tidak ada hal yang tidak bisa bila hal itu berniat untuk sebuah kebaikan. Medsos bisa anda gunakan sebagai media untuk meningkatkan minat membaca siswa. Bagaimana caranya?

  1. Siswa memiliki akun medsos yang dikelola secara personal dengan menggunakan identitas yang benar (nama yang digunakan tidak alay)
  2. Guru membuat sebuag group di medsos dengan menginput seluruh siswa untuk menjadi anggota.
  3. Sifat grup adalah tertutup. Sehingga hanya siswa yang dididik saja yang menjadi anggota group.
  4. Setiap siswa mendapat tugas untuk membuat artikel pendidikan di setiap akunnya dan membagikan pada group.
  5. Bisa juga siswa mencari artikel pendidikan (materi tertentu sesuai dengan yang ditugaskan guru) kemudian membagikannya di medsos. 
  6. Setiap siswa ditugaskan membaca artikel yang dibagikan oleh teman mereka.
  7. Siswa bisa berkomentar atau mengajukan pertanyaan atas artikel yang ditulis siswa.
Nah, dengan cara sederhana ini, medsos tidak hanya akan menjadi sebagai ajang untuk menulis hinaan, atau celotehan yang kotor.

Cukup mudah untuk menggunakan dan membuatnya. 

Selamat mencoba !

BACA JUGA ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Komentar